Vaksin Booster Campuran Lebih Ampuh Tingkatkan Antibodi

oleh -
Vaksin Booster Campuran Lebih Ampuh Tingkatkan Antibodi
Warga menerima vaksin booster di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati, Jakarta, Rabu (12/1/2022). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

BELITONGEKSPRES.CO.ID – Hasil penelitian membuktikan vaksin booster campuran lebih ampuh untuk meningkatkan antibodi seseorang. Seseorang bisa mendapatkan vaksin penguat berbeda dengan dosis 1 dan 2 atau sama dengan dosis dan 2.

Oleh karena itu vaksin booster bersifat homolog dan heterolog. Penelitian membuktikan, vaksin booster campuran atau dosis ketiga berbeda dengan dosis 1 dan 2, mampu meningkatkan antibodi lebih tinggi daripada vaksin homolog atau sejenis.

Vaksin heterolog adalah vaksin campuran. Artinya misalnya dosis 1 dan 2 diberikan Sinovac dengan virus yang tak aktif, maka dosis 3 diberikan vaksin metode mRNA seperti Pfizer atau Moderna.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada Juli 2021 mengirimkan rekomendasi kepada pemerintah untuk segera memberikan booster ketiga untuk memberikan perlindungan yang lebih baik bagi petugas kesehatan.

Usulan itu akhirnya disetujui. Saat itu 50 profesor serta tim medis garda terdepan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menerima booster di RS Cipto Mangunkusumo sebagai tenaga kesehatan pertama di Indonesia yang menerima booster. Nakes saat itu mendapatkan vaksin heterolog yakni vaksin berbeda dari dosis 1 dan 2.

Nakes menerima vaksin Moderna untuk booster. Dosis 1 dan 2, mereka menerima Sinovac. “Program booster vaksin untuk tenaga kesehatan kemudian dilanjutkan di seluruh negeri, dan semua staf medis, staf administrasi, dan mahasiswa kedokteran kami saat itu menerima suntikan ketiga menggunakan vaksin yang dibuat oleh perusahaan biotek AS Moderna,” kata Ahli Spesialis Penyakit Dalam dan Dekan FKUI Prof Ari Fahrial Syam kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Ia pun disuntik booster Moderna. Prof Ari bercerita Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang ia rasakan hanya bersifat ringan. “Ya saya menerima 2 Sinovac, booster Moderna. Hanya 1 hari, meriang, panas 37,5 derajat, dan sedikit pegal di tempat suntikan,” kata Prof Ari.

Hasil Penelitian

Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti FKUI dan dimuat di jurnal ilmiah Medrxiv, menyebutkan vaksin virus utuh yang tidak aktif CoronaVac (SinoVac) adalah vaksin Covid-19 yang paling banyak diberikan di seluruh dunia. Namun, data tentang imunogenisitas dan reaktogenisitasnya terhadap peningkatan heterolog dengan vaksin mRNA (seperti Pfizer dan Moderna) masih kurang.

Kelompok staf rumah sakit di Jakarta, Indonesia, yang menerima dua dosis CoronaVac enam bulan sebelumnya mengukur titer antibodi pada sampel serum berpasangan yang diambil sebelum dan 28 hari setelah booster mRNA dengan Moderna.

Temuan di antara 304 peserta, usia rata-rata adalah 31 tahun (kisaran 21-59), 235 (77,3 persen) adalah perempuan, 197 (64,8 persen) memiliki satu atau lebih infeksi SARS-CoV-2 sebelumnya. Infeksi dan interval waktu yang lebih lama antara vaksin kedua dan booster mRNA dikaitkan dengan titer antibodi pra-peningkatan yang lebih tinggi. Pasca-booster, titer antibodi meningkat 9,3 kali lipat, dari 250 menjadi 2313.

Interpretasi booster mRNA vaksin heterolog dosis tinggi setelah CoronaVac dua dosis sangat imunogenik dan aman. Termasuk pada mereka yang paling membutuhkan peningkatan kekebalan.

Beberapa uji klinis telah mengevaluasi jadwal vaksinasi heterolog (vaksinasi campur menunjukkan respons imun yang kuat pada orang dewasa. Setelah CoronaVac (Sinovac) dua dosis, lalu diberikan booster (Pfizer-BioNTech) secara signifikan lebih imunogenik daripada booster homolog terhadap tipe Variants of Concern (VOCs) Beta, Gamma dan Delta.

Dibandingkan dengan varian SARS-CoV-2 sebelumnya, booster vaksin saat ini tampaknya menetralkan Delta ke tingkat yang sedikit lebih rendah, dan Omicron ke tingkat yang jauh lebih rendah. Dan data awal dari Moderna menemukan bahwa dosis resmi meningkatkan peningkatan antibodi 37 kali lipat dan dosis tinggi meningkatkan 83 kali lipat.

Penelitian itu adalah yang pertama memberikan bukti penting di dunia nyata bahwa peningkatan booster vaksin heterolog dengan vaksin mRNA dosis tinggi setelah CoronaVac (Sinovac) sangat imunogenik, aman, dan dapat ditoleransi dengan baik pada orang dewasa. (jpc)