Banjir Order, Petani Beltim ini Ujicoba Tanam Edamame Incaran Hotel Berbintang

oleh -
Banjir Order, Petani Beltim ini Ujicoba Tanam Edamame Incaran Hotel Berbintang
Memet sedang menunjukkan kacang Edamame yang dihasilkan dari kebunnya.

BELITONGEKSPRES.CO.ID, GANTUNG – Muhammad Made alias Memet menjadi satu-satunya petani Kabupaten Beltim yang melakukan ujicoba menanam kacang Edamame. Mendengar nama tanaman Edamame, mungkin masih asing bagi sebagian masyarakat.

Edamame adalah jenis kacang polong yang biasa dikonsumsi warga kelas atas. Bayangkan saja, satu genggam Edamame bersama polongnya bisa dihargai mencapai Rp 30 ribuan di hotel-hotel berbintang.

Tanaman Edamame tidak sesulit yang dibayangkan ketika ditanam sampai panen. Selama 80 hingga 90 hari, Edamame sudah bisa menghasilkan setidaknya setengah kilogram per batang bahkan lebih.

Selama ini, mendapatkan Edamame cukup sulit bagi masyarakat di Pulau Belitong. Biasanya, warga yang berpergian keluar daerah menjadikannya sebagai buah tangan. Tapi kini, tanaman Edamame bakal mudah didapat di Pulau Belitong jika dikembangkan secara masif oleh petani.

“Ini baru sekedar coba-coba, hasilnya cukup memuaskan. Baru saya sendiri, nanti baru kita kembangkan ke anggota komunitas lainnya,” ujar Memet, petani yang juga Ketua Komunitas Rempah Beltim (KIRAB) saat ditemui Belitong Ekspres, Sabtu (8/1).

Memet yang mengolah lahan di Desa Lenggang Kecamatan Gantung menceritakan awal ketertarikannya pada Edamame. Alasannya karena tanaman yang menghasilkan kacang bersama polongnya tersebut termasuk tanaman tumpang sari.

“Saya beli bibitnya dari teman diluar daerah. Kemudian saya tanam di sini dengan pola tumpang sari dengan tanan jahe yang juga menjadi komoditas utama disini (kebun),” kata Memet.

Karena jenis tanaman tumpang sari, Edamame relatif berumur pendek sejak masa penanaman sampai panen. Kecuali jika menginginkan Edamame sebagai bibit, maka usia panen baru dilakukan setelah tanaman berusia 4 bulan.

“Sejak saya tanam, tidak pernah menggunakan pestisida. Pupuknya murni menggunakan pupuk organik yang saya fermentasi sendiri,” jelas Memet.

Saat ini, kata Memet, permintaan Edamame cukup tinggi. Hanya menjual melalui media sosial saja, antrian pemesanan sangat banyak. “Alhamdulillah, hari ini (Sabtu) saja, saya bawa 4 karung pesanan. Ada yang beli sampai 10 kilogram, paling sedikit 2 kilogram,” sebut Memet.

Satu kilogram Edamame dalam polongnya dijual seharga Rp 25ribu. Bisa dibayangkan saja, jika sekali panen bisa menghasilkan 100 kilogram maka uang yang diperoleh mencapai Rp 2,5 juta.

“Sebenarnya masih banyak komoditas pertanian lain yang bisa dikembangkan di Pulau Belitong khususnya di Beltim. Ini bisa menjadi solusi pasca tambang, jangan semuanya harus didatangkan dari luar (daerah),” ujarnya.

Memet berharap, kedepan banyak anak-anak muda di Beltim memilih sektor pertanian sebagai lapangan pekerjaan. Tidak selalu harus membuka lahan pertanian secara luas tetapi perlahan-lahan sesuai kemampuan.

Menurut Memet, itupun berlaku pada dirinya. Memang menjadikan komoditas jahe sebagai tanaman utama di lahan yang diolahnya, namun sambil menunggu masa panen dapat memanfaatkan lahan jahe sebagai tumpang sari tanaman lain seperti Edamame.

“Setelah Edamame, panen cabe, lanjut jagung dan lainnya. Jadi tidak terputus, selalu ada yang dihasilkan,” kata Memet.

Melalui komunitasnya, Memet juga bersedia membantu petani yang mau belajar dan mengembangkan pertanian. Termasuk menampung hasil-hasil pertanian yang dihasilkan petani.

“Mumpung lahan masih ada, mari kita menjadi petani. Minimal kita bisa memenuhi pangsa pasar daerah sendiri. Jangan sampai nanti lahan-lahan pertanian dikuasai pemodal besar, kita yang di sini hanya menjadi pekerjanya,” pungkasnya. (msi)