Lambat Tangani Bayi Lahir Tanpa Anus, Ini Kata Direktur RSUD Marsidi Judono

oleh -
Lambat Tangani Bayi Lahir Tanpa Anus, Ini Kata Direktur RSUD Marsidi Judono
Direktur RSUD dr H Marsidi Judono, dr Hendra SpAn.

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Wakil Bupati Belitung, Isyak Meirobie mengaku kecewa dengan lambannya penanganan RSUD dr H Marsidi Judono terhadap bayi yang lahir tanpa lubang anus (atresia ani).

Hal itu seperti dialami bayi Micky Fernando, anak dari pasangan Sujono dan Sudiarti warga Dusun Aik Pelempang Timur, Desa Air Pelempang Jaya, Kecamatan Tanjungpandan.

“Problem yang dihadapi keluarga dan bayi adalah ketika dirujuk ke rumah sakit sana sini semuanya menolak dan saling lempar,” kata Isyak saat konferensi pers di rumah dinas, Jumat (6/8).

Menurut Isyak, pasien yang berumur di bawah 5 hari itu menjalani perawatan di RSUD Marsidi Judono. Kemudian akan dirujuk ke rumah sakit swasta lain di Kabupaten Belitung.

Rujukan tersebut untuk mendapatkan tindakan kolostomi atau operasi pembuatan lubang di bagian perut sebagai saluran pembuangan kotoran atau feses.

“Kalau operasi di RSUD dokter anestesinya mengatakan bahwa RSUD saat ini merupakan rujukan Covid-19. Sehingga pasien dilakukan rujukan ke rumah sakit lain,” katanya.

Isyak menceritakan, ketika pasien akan dirujuk RS Utama, tetapi hanya sebatas komunikasi dengan dokter bedah. Dokter bedah menyampaikan kasus itu tidak bisa ditangani di Belitung.

Selanjutnya, pihak RSUD Marsidi Judono, berkoordinas ke RSUD Beltim. Wabup juga berkomunikasi dengan Bupati Beltim dan direktur RSUD. Tapi, dokter bedah di sana tidak bersedia melaksanakan operasi Colostomi.

“Misalnya, ada dokter spesialis bedah yang setuju namun dokter anestesi tidak setuju dan sebaliknya kemudian harus dirujuk ke RSUP Bangka Belitung (Babel),” ujarnya.

“Bayangkan kalau harus dirujuk ke RSUP Babel dengan kondisi sekarang ini, di mana bayi membutuhkan asupan oksigen dan infus,” imbuh Isyak.

Ia pun sangat menyayangkan sikap oknum dokter yang saling lempar tanggung jawab untuk menangani pasien tersebut. Padahal di tengah kondisi seperti itu seorang dokter harus mengedepankan sisi kemanusiaan.

“Dalam kondisi ini yang dikedepankan adalah misi kemanusiaan menyelamatkan nyawa bayi bukan pilih-pilih pasien yang aman dioperasi,” sebut Isyak.

Isyak menambahkan, berdasarkan informasi terbaru akhirnya bayi tersebut telah menjalani operasi di RSUD Marsidi Judono Belitung, Jumat (6/8) siang.

“Bayi barusan menjalani operasi di RSUD Marsidi Judono Belitung pukul 10:30 WIB, dan sudah keluar dalam kondisi kurang baik karena operasinya mendadak,” terangnya.

Sementara itu, Direktur RSUD dr H Marsidi Judono dr Hendra SpAn mengatakan, untuk memutuskan tindakan semua dokter akan berpegang teguh ke mutu dan keselamatan pasien tersebut.

“Baik itu dari sisi kondisi dokter yang melakukan tindakan, kondisi pasien dan sarana prasarana pendukung, jadi harus clear,” kata dr Hendra saat diminta tanggapan terkait kekecewaan Wakil Bupati Belitung.

Kata dia, pada kondisi tertentu dokter harus memutuskan tindakan tersebut sangat beresiko dan akan terjadi kemungkinan terburuk. Lantas dengan persetujuan pihak keluarga baru akan dilaksanakan tindakan.

“Untuk bayi yang dikerjakan di RSUD Marsidi Judono telah melalui tahapan-tahapan yang saya sampaikan di atas. Sebelum tindakan pembiusan dan operasi, kondisi pasien stabil menangis kuat dan tampak masih baik,” ujarnya.

“Alhamdulillah operasi berjalan lancar tanpa kendala, dan bayi dikembalikan ke ruangan perawatan perinatalogi dengan kondisi stabil dan baik,” tandas dr Hendra. (dod/red)